Friday, October 26, 2007

Monday, April 23, 2007

KARTINI, PEJUANG YANG TERKEKANG

Hari Kartini bagi saya nyaris tidak berarti apa-apa selain pemandangan anak-anak sekolah dan karyawati berkebaya. Termasuk ketika hari itu saat saya berkunjung ke sebuah toko buku, karyawatinya mengenakan kebaya cantik dan rambut ditata model sanggul. Cantik, komentar saya dalam hati, nggak tiap hari lihat yang begini. Sambil tersenyum saya menyapa menggoda mereka. “Selamat hari Kartini” yang disambut dengan senyuman sumringah dan sodoran sekeranjang bunga. Saya memilih mawar merah, dan ketika ditanya oleh sahabat saya Lena, kenapa saya memilih warna merah (Lena sendiri memilih warna putih), saya menjawab otomatis, bagi saya mawar harus merah.
Tak ada kesan khusus hari itu. Tapi sekelebat bayangan muncul di pikiran saya, ingat acara ‘empat mata’ Tukul semalam, yang membahas tentang “kartini-kartini” masa kini, dengan menghadirkan tokoh artis yang masih single, artis single parent, dan primadona malam itu : seorang tukang ojek wanita. Waktu itu, saya belum terkesan.
Dan hari ini bos saya kembali mengusik tentang Kartini, bercerita tentang komentar istrinya bahwa Kartini tidak lebih dari jeritan hati seorang wanita darah biru yang terkungkung di balik tembok keraton. She did nothing, bandingkan dengan Cut Nyak Dhien atau Siti Rohana Kudus. Saya terpancing untuk menanggapi. Tetapi Si Bos bilang, tak perlu jadi polemik, dan inilah saya sekarang, menulis sebuah refleksi mengenai Kartini yang tiba-tiba saya renungi saat usia saya hampir 35 tahun.
Kartini mungkin bukan tokoh idola saya. Saya belum pernah secara khusus berpikir tentang Kartini, apalagi bersimulasi bahwa saya adalah Kartini. Tapi ekspose sebuah judul (dan hanya judul) buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” atau semacam acara tahunan “Lomba Kebaya Kartini” atau pemunculan seorang superhero wanita dalam wujud Single Parent, Tukang Ojek, Sopir Taksi atau Kenek Bis membuat saya menyempatkan berpikir tentang emansipasi. Saya kok tidak sreg dengan semua kemasan ini. Firasat saya bukan hal seperti itu yang diinginkan oleh Kartini. Kalau begitu apa ?
Mengingat masa kecil saya, adalah masa bersaksi melihat kesibukan ibu saya yang setiap hari harus berangkat pagi mengajar di sebuah sekolah, dan pulangnya langsung terjun ke dapur untuk menyiapkan makan siang bagi keluarga. Untuk acara di dapur ini beliau hanya punya waktu 1 jam (bandingkan dengan waktu yang saya perlukan sekarang di dapur, dengan bantuan peralatan modern dan pembantu rumah tangga). Setelah keluarga makan siang, beliau masih harus menyiapkan bahan mengajar untuk besok. Setelah itu dilanjutkan lagi dengan kegiatan menjahit dan menyulam, sebagian untuk melepaskan stress, dan sebagian besar untuk dijual. Saya tidak pernah mengeluh soal kurangnya perhatian, karena saya tahu itu bukanlah keinginan dari ibu saya. Sebagai guru sekolah dasar, dan istri pegawai negeri biasa, dengan 7 orang anak, apakah beliau masih punya waktu untuk mendongeng, atau membacakan cerita dari buku (kebetulan saya cukup ditimbuni buku-buku yang dipinjam dari sekolah Ibu). Beliau bahkan baru bisa menyicil bercerita sejarah keluarga setelah saya dewasa dan bekerja ! Jangan heran saya tidak langsung ngeh kalau bertemu dengan saudara misan ini atau paman ini dan itu. Setelah dewasa, saat-saat saya diam-diam memandang beliau dengan penuh cinta, kadang saya membatin, apakah beliau adalah wujud emansipasi wanita (berkarir dan berkontribusi ekonomi bagi keluarga) ?
Ibu saya pasti paham sejarah Kartini walaupun tidak punya waktu untuk menularkan pemahamannya. Sebagai gadis kecil saya pertama mengenal Raden Ajeng Kartini melalui sebuah lagu dengan melodi sederhana. Kemudian dari guru di sekolah yang bercerita tentang sebuah buku berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” tanpa mengupas lebih jauh isi buku tersebut. Gambaran seorang RA Kartini kemudian saya dapatkan dari film di bioskop. Terlepas dari akurat tidaknya film tersebut, saya menyimpan kesan tentang suatu kebulatan tekad yang dituliskan diam-diam, tentang keinginan untuk memilih jalan hidup sendiri, lebih dari sekedar jeritan hati perempuan pingitan, yang dituliskan dalam lembaran-lembaran surat yang penuh cita-cita kepada seorang sahabat nun jauh di luar negeri. Adalah si sahabat yang kemudian mempublikasikan surat-surat itu sehingga membuat RA Kartini begitu terkenal dan ujung-ujungnya dibuatkan sebuah lagu.
Banyak yang merasa aneh dengan lirik lagu itu. “Pendekar putri” ? Kok perempuan yang menangis dipingit dan dijadikan istri yang kesekian (walaupun setelah menikah dapat gelar Raden Ayu, istri utama), yang begitu tak berdaya bisa disebut pendekar ? Kalau begitu apa sebutan yang lebih hebat untuk seorang Cut Nyak Dhien yang bertempur di medan perang ? Saya adalah pemuja kedigdayaan Cut Nyak Dhien, tapi apakah perjuangan Cut Nyak Dhien berhasil menginspirasi wanita untuk maju? Bukankah yang terjadi adalah Cut Nyak Dhien memutuskan mengambil alih pimpinan perjuangan karena Belanda telah melumpuhkan perlawanan suaminya. Saya belum menemukan benang merah antara kemajuan kaum wanita dengan aksi mengangkat senjata.
Kita punya lagi pejuang Dewi Sartika dan Siti Rohana Kudus. Mereka berjuang dengan mendirikan sekolah khusus untuk wanita. Ternyata perjuangan mereka tidak membuat pemerintah mencanangkan Hari Dewi Sartika atau Hari Siti Rohana Kudus (walaupun mereka mendapatkan gelar Pahlawan Nasional). Dan saya pun bertanya-tanya seberapa kuat perjuangan mereka berhasil memajukan wanita ?
Dewi Sartika dan Siti Rohana Kudus dibesarkan dengan pola yang sama sekali berbeda dengan Kartini. Harus kita akui, makin tinggi status sosial seorang wanita makin banyak aturan yang mengungkungnya. Aturan pingitan tidak berlaku bagi wanita dari kalangan biasa. Aturan tidak boleh bergaul di luar dengan orang kebanyakan hanya berlaku bagi wanita berdarah biru. Kartini bergerak dalam lingkaran yang lebih sempit dibanding pejuang wanita yang lain. Sejarahnya Kartini juga mendirikan sekolah khusus untuk wanita dalam skala yang lebih kecil. Namun pastilah bukan sekolah itu yang membuat ia dihormati secara khusus.
Kalau dipikir-pikir, RA Kartini adalah seperti situasi di dunia kerja masa kini, berbuat tanpa publikasi tidak akan membuat Anda mendapatkan posisi. Situasi dunia kerja, Anda harus mampu jual diri, lakukan sesuatu dan publikasikan. Kalau sudah bicara begini, kita bisa bilang, kebetulan RA Kartini punya koneksi yang memiliki akses ke media cetak (penerbit). Ia diuntungkan oleh persahabatannya dengan wanita asing yang melek jurnalistik sehingga akhirnya mimpi sang Darah Biru yang terkungkung bisa diketahui oleh dunia. Siti Rohana Kudus dan Dewi Sartika jelas kalah set dalam hal ini.
Pada titik ini kita harus mengakui, kekuatan pikiran, itulah yang mengendalikan dunia. Dunia saya yang kecil, maupun dunia kita yang besar. Saya telah melihat pembuktian yang dibuat oleh seorang sahabat saya, yang tidak punya kemampuan memadai untuk membuat sebuah aplikasi komputer. Yang dilakukannya adalah menuliskan idenya, mempresentasikan ide tersebut, dan mempengaruhi teman-teman yang capable untuk mewujudkan ide tersebut dalam bentuk aplikasi komputer. Jangan heran ia sekarang adalah salah seorang General Manager berpengaruh di sebuah perusahaan telekomunikasi. Itulah kekuatan pikiran.
Kartini tidak punya kekuatan phisik. Anda toh tidak bisa membayangkan seorang gadis keraton akan menunggang kuda dengan garang, mengayunkan pedang, atau memberontak kepada ayahandanya karena tidak mau dipingit. Itu bukan style putri keraton. Kartini adalah seorang yang elegan. Dia adalah asli putri keraton, yang bicara dengan ayahnya dengan santun dan menundukkan wajah, yang hanya bisa marah dengan matanya kepada sang suami yang sibuk dengan selir yang banyak dan memilih menuangkan isi hatinya melalui mata pena, yang ternyata memang terbukti lebih tajam dari sangkur. Kegalauan Kartini bukanlah jeritan karena dipingit dan dimadu, tapi ketidakberdayaan karena tidak bisa menyuarakan keinginannya sendiri. Kartini adalah contoh nyata pikiran yang bebas dari fisik yang terkurung.
Saya dibesarkan tidak dengan pola Kartini. Saya adalah produk tahun 70an yang sudah mendapat kesempatan untuk mendapatkan pendidikan yang setara dengan laki-laki. Tapi saya sungguh miris, melihat wanita yang membuktikan keperkasaannya dengan menjadi supir taksi, tukang ojek, tukang parkir. Bagi saya itu adalah suatu hal yang bias. Bahkan gereja yang tidak pernah melupakan kesalahan Eva memakan apel larangan, tidak mau menempatkan wanita di posisi seperti itu. Konon lagi Islam yang menempatkan wanita di posisi terlindung (tidak boleh ditugaskan keluar rumah untuk mencari nafkah, tidak boleh terlihat oleh bukan muhrimnya dsbnya. Dipikir-pikir mirip ya dengan aturan pingitan). Mengapa ada wanita yang menjalani profesi non feminin tersebut? Itu adalah keterpaksaan, karena wanita masih dipandang sebagai bumper keluarga. Sementara wanita sendiri banyak yang gamang menerjemahkan arti emansipasi sebagai perambahan dunia lelaki, pembuktian kesamaan kemampuan. Wanita tetap lebih terlindung bila tidak mengerjakan hal-hal yang mempertaruhkan kewanitaannya, yang mengharuskan ia bersikap seperti laki-laki (kalau tidak garang nanti dicolek sesama kenek), tidak membuat dirinya menjadi tontonan dan obyek slogan : “Wanita juga bisa”. Wanita yang tercebur ke permainan ini pada akhirnya tetaplah hanya sebuah obyek dari sebuah kepura-puraan yang bernama emansipasi.
Saya tidak berani mengatakan emansipasi telah salah kaprah, mungkin jawaban yang tepat adalah belum proporsional. Toh banyak juga profesi feminin yang sebenarnya hanya menempatkan wanita sebagai hiasan semata. Saya angkat topi untuk Marissa Haque yang cerdas dan ambisius, konsisten di jalurnya dan tetap dengan stylenya : sangat feminin. Ratu memerintah dengan cara ratu, karena seorang ratu tidak akan pernah menjadi raja. Mungkinkah sebenarnya emansipasi itu masih mencari bentuk ?
Saya terus mengamati dan cukup gerah, bahwa ternyata terjemahan inspirasi Kartini ternyata belum menyentuh dan nge-link dengan cita-citanya. Saya bermimpi tentang emansipasi, suatu dunia dimana seorang wanita bisa menyuarakan pendapatnya, melakukan pilihan-pilihan dalam hidupnya, tidak terpaksa keadaan ekonomi ataupun sosial (buktikan wanita pun bisa, setelah itu apa ?). Saat wanita bisa memilih ingin menjadi wanita seperti apa, menjadi ibu rumah tangga karena itu profesi yang sangat mulia (bukan karena dianggap tidak punya bekal ilmu sehingga terpaksa di rumah saja), atau ingin menjadi dokter kandungan (karena ingin membantu sesama wanita dari situasi yang canggung berhadapan dengan dokter pria), atau ingin menjadi guru, karena ingin menginspirasi dan memotivasi murid-muridnya, atau saat wanita bisa memutuskan apa yang akan dilakukan dengan tubuhnya (punya anak kapan ia merasa siap dan bersedia, bukannya karena tidak berdaya menolak takdir melahirkan anak setiap tahun).
Satu hal yang perlahan saya sadari, cita-cita Kartini lah yang menginspirasi ibu saya agar anak-anak perempuannya bersekolah setinggi-tingginya, mampu berdiri di atas kakinya sendiri, dapat memutuskan jalan hidupnya sendiri. Bahkan seandainya saya mengambil jalan yang berlawanan dengan jalan yang saya tempuh saat ini, beliau tetap akan merasa bahagia, karena saya memilih dengan sadar. Saya sudah diberi kesempatan untuk memilih, hal yang tidak sempat mampir dalam hidup Kartini. Kartini tidak mampu membebaskan dirinya sendiri dari kungkungan keraton, tapi pikirannya mengembara bebas sampai ke luar negeri, dan menembus batas waktu. Anda tidak akan mendapat nilai tambah kalau melakukan sesuatu yang dalam batas kekuatan Anda, tapi lihat Kartini, pikirannya melebihi fisiknya. Sejarah besar terjadi karena mimpi seorang Newton, Alexander Graham Bell dan banyak lagi pemimpi. Mimpi Kartini yang penuh warna dan cita-cita mudah-mudahan bisa menggerakkan sejarah.
Kalau begitu, jadi pertanyaan berikutnya, apakah mengenang Kartini cukup dengan lomba busana Kebaya atau menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini” atau menghadirkan tokoh wanita “perkasa”? Itu bukanlah terjemahan mimpi yang jitu. Mimpi Kartini tidaklah muluk, sederhana saja, biarkan wanita memilih perannya tanpa intervensi, pelecehan, intimidasi, provokasi, apalagi manipulasi. Sebuah mimpi yang sangat tulus dan realistis. Jika ada wanita yang menjalani hidup di kutub yang berseberangan dengan kewanitaannya, janganlah jadikan itu sebagai komoditi iklan emansipasi, karena bukan jenis pekerjaannya yang utama, melainkan keberanian dan keyakinan untuk menjalaninya. Mudah-mudahan saya pun tidak sedang bermimpi. Karena bagi saya mawar yang indah adalah yang merah, mungkin ada mawar berwarna biru, tapi sejujurnya bagi saya merah adalah warna terindah untuk bunga mawar.